Taniwel - Info Digital Akurat - Duka mendalam kembali menyelimuti masyarakat di wilayah pegunungan Seram Bagian Barat. Di balik kabut tebal yang menyelimuti Taniwel, tersimpan potret kehidupan yang begitu berat, tentang mahalnya arti sebuah akses jalan bagi warga di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), yang hingga kini masih berjuang dengan keterbatasan infrastruktur, Minggu (21/6/2026).
Rasa pilu dan kesedihan kembali dirasakan oleh warga Desa Lohia Sapalewa, Kecamatan Taniwel. Mereka harus bahu-membahu memikul peti jenazah almarhumah Nenek Balandina Tibalimeten (70 tahun) sejauh lebih dari 4 kilometer, melewati medan pegunungan yang terjal, demi mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir dengan penuh penghormatan.
Kisah haru ini bermula ketika almarhumah mengalami sakit keras sejak sekitar sebulan lalu, tepatnya pada 18 Mei 2026. Ia sempat dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis di luar kampung. Namun, takdir berkata lain. Pada pagi hari sekitar pukul 05.00 WIT, ia mengembuskan napas terakhir di rumah duka, Desa Taniwel, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar.
Namun duka itu tidak berhenti di sana. Sore harinya sekitar pukul 18.00 WIT, tangis keluarga kembali pecah saat peti jenazah harus dinaikkan ke atas tandu darurat. Kondisi jalan yang rusak parah dan keterisolasian wilayah membuat kendaraan roda empat, termasuk ambulans, tidak dapat menjangkau Desa Lohia Sapalewa. Warga pun menjadi satu-satunya “pengantar” terakhir bagi almarhumah menuju tempat peristirahatan.
Secara bergantian, tua dan muda memikul tandu sederhana itu di pundak mereka, melintasi jalur pegunungan yang sunyi di bawah cahaya senja yang perlahan meredup. Perjalanan panjang lebih dari 4 kilometer itu bukan hanya soal jarak, tetapi juga tentang keteguhan hati dan rasa kebersamaan yang lahir dari keterbatasan.
Bagi masyarakat pegunungan Taniwel, kondisi seperti ini bukanlah hal yang asing, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijalani setiap hari. Saat sakit, warga harus ditandu menembus hutan dan bukit untuk mencapai fasilitas kesehatan. Saat meninggal, jenazah pun diperlakukan dengan cara yang sama. Bahkan kebutuhan pokok pun harus dipikul melewati jalur yang penuh tantangan.
Kepala Desa (Penjabat Negeri) Lohia Sapalewa, Thomas Soriale, tidak mampu menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya saat menggambarkan kondisi wilayahnya. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan bahwa keterbatasan akses jalan telah lama menjadi luka yang belum terobati bagi masyarakatnya.
“Kami hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Ketika ada warga kami yang sakit atau meninggal di rumah sakit, jalurnya harus seperti ini. Kami bersama masyarakat harus bahu-membahu memikul orang sakit, jenazah, bahkan kebutuhan pokok sehari-hari. Sampai saat ini, kami sangat tertinggal karena akses jalan,” ungkap Thomas dengan penuh haru.
Melalui peristiwa duka ini, ia kembali menyampaikan harapan besar kepada para pemangku kebijakan, baik di tingkat daerah maupun pusat, agar memberikan perhatian yang lebih serius terhadap kondisi infrastruktur di wilayah pegunungan tersebut.
“Mudah-mudahan ada perhatian serius dari pemerintah. Siapa pun pemimpin yang duduk di Kabupaten SBB, Pemerintah Provinsi Maluku, hingga Pemerintah Pusat di Jakarta, tolong lihat kami masyarakat di Pegunungan Taniwel, salah satunya kami di Desa Lohia Sapalewa. Kondisi jalan kami sampai hari ini sangat memprihatinkan. Inilah hidup kami” tambahnya.
Kepergian Nenek Balandina kini telah sampai pada peristirahatan terakhirnya dengan tenang. Namun kisah yang menyertainya meninggalkan jejak yang dalam bagi masyarakat Lohia Sapalewa, sebuah pengingat bahwa masih ada kehidupan di pelosok negeri yang berjalan dengan langkah berat, menunggu hadirnya perhatian dan perubahan yang lebih layak, agar perjalanan duka tidak lagi harus ditempuh dengan pundak manusia sebagai satu-satunya pengganti jalan.
