Mamala - Info Digital Akurat - Semangat adat dan nilai kebersamaan kembali menggema di Negeri Mamala dalam pelaksanaan Tradisi Pukul Sapu, sebuah warisan leluhur yang sarat makna dan terus dijaga lintas generasi. Tradisi ini tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan pengingat akan jati diri masyarakat yang menjunjung tinggi keberanian, ketulusan, dan persaudaraan, yang digelar pada 7 Syawal 1447 Hijriah, Sabtu (28/4/2026).
Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, mengungkapkan rasa bangga dan hormatnya karena dapat kembali hadir dan menyaksikan secara langsung tradisi yang penuh nilai tersebut.
Menurutnya, Pukul Sapu bukan hanya tentang kekuatan fisik yang ditampilkan di arena, tetapi lebih dalam sebagai cerminan karakter masyarakat yang tetap kokoh menjaga adat, mempererat kebersamaan, serta merawat semangat orang basudara yang menjadi identitas Maluku.
Setiap ayunan sapu yang mengenai tubuh bukanlah sekadar simbol keberanian, melainkan pesan yang diwariskan turun-temurun tentang keteguhan hati. Luka yang tampak bukanlah penderitaan semata, tetapi bagian dari proses menguji keikhlasan dan memperkuat rasa saling memiliki di antara sesama.
Keseluruhan prosesi ini memperlihatkan bahwa di balik kerasnya ritual, tersimpan kelembutan nilai persaudaraan yang tidak pernah luntur. Justru dari tradisi inilah, ikatan sosial semakin diperkuat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah pun memberikan apresiasi penuh terhadap upaya pelestarian tradisi ini. Budaya diyakini sebagai fondasi utama dalam menjaga kebersamaan, sementara adat menjadi perekat yang menjaga harmoni kehidupan masyarakat.
Karena itu, tradisi Pukul Sapu diharapkan terus dirawat, dikembangkan, dan diperkenalkan sebagai kekayaan budaya daerah yang memiliki nilai luhur di mata dunia.
Lebih dari sekadar ritual, Pukul Sapu mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada siapa yang paling kuat, tetapi pada bagaimana keberanian diuji, persaudaraan dipererat, dan adat dijunjung dengan penuh kehormatan.
Pada akhirnya, luka yang tercipta akan sembuh oleh waktu, namun nilai persaudaraan yang terpatri akan tetap hidup, mengalir dalam setiap denyut kehidupan masyarakat, menjadi cahaya yang menuntun langkah menuju Maluku Tengah yang damai, bermartabat, dan penuh kasih.




